Photobucket


Sumpah iblis:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ


"Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (AL HIJR:39-40)

Ini adalah perkara yang tak sengaja sering kita lalaikan sebagai orang tua. Perkembangan dan godaan teknologi informasi saat ini amat sangat menghawatirkan terhadap pertahanan AQIDAH Islam. Anak-anak tidak jarang lepas dari pengawasan maupun bimbingan kita meskipun mereka ada dalam rumah. Godaan iman sudah masuk dalam rumah kita melalui TV, HP dan Internet. Belum lagi lingkungan diluar rumah sangat begitu dahsyatnya.

Hidup dan kehidupan adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Demikian pula penciptaan manusia dan seluruh makhluk-Nya yang penuh makna dan nilai di muka bumi ini. Maka hal yang seharusnya kita lakukan adalah berusaha menepati amanah Allah dengan terus berusaha mencintai kebaikan dan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kesungguhan atau mujahadah adalah hal mutlak yang kita butuhkan apabila kita menginginkan kebaikan kehidupan di dunia dan akhirat. Maka menjaga diri, kemudian keluarga dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita ke dalam api neraka menjadi suatu hal yang niscaya untuk kita perhatikan bersama. Karena ketika seseorang dapat menjaga dirinya dengan baik, maka dia akan selalu berada di dalam hidayah Allah sehingga tidak akan ada yang dapat memberikan madharat kepadanya.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu;tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Maidah [5]: 105

Begitu pula dengan keluarga, yang di dalam bahasa Arab disebut usroh, secara harfiyah berarti ad-dir`ul-hashinah, yaitu benteng yang kuat. Keluarga memang suatu benteng yang kuat yang menjadi pertahanan manusia dari berbagai gangguan yang dihadapinya dalam kehidupan sosial, seperti kriminal, material, seksual, dan sebagainya. Keluarga juga dapat membentengi dan melindungi sekaligus menyelesaikan problem kemanusiaan dari waktu ke waktu. Sehingga upaya dan ikhtiar maksimal untuk menjadikan rumah kita sebagai syurga kecil, harus terus kita upayakan. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim [66] : 6)

Sabda Rasulullah SAW, diriwayatkan dari Abbas ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kamu terhadap api neraka meskipun hanya bisa bersedekah dengan sebutir kurma.” Di antara penjelasan tafsir Fi Zhilaalil Qur`an-nya Sayyid Qutb tentang surat At-tahrim ayat enam tersebut adalah bahwa setiap mukmin diwajibkan untuk memberikan petunjuk kepada keluarganya dan memperbaiki seluruh anggota keluarganya, sebagaimana ia diwajibkan terlebih dahulu memperbaiki dirinya. Islam adalah suatu agama yang mengatur keluarga, maka ia mengatur kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang Islami akan menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang Islami. Seorang ibu harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sebagaimana pula seorang ayah harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sehingga mereka dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

Dalam membangun keluarga yang dilandasi takwa, seorang Muslim harus memandangnya sebagai ibadah kepada Allah dan hanya mengharap keridhaan dan pahala dari Allah SWT. Untuk itu, kedua belah pihak, antara suami dan istri, harus mengetahui dan memahami seluruh persoalan yang berkaitan dengan kehidupan suami istri dalam pandangan Islam, yaitu yang menyangkut hak-hak dan kewajiban masing-masing. Dan juga harus bersungguh-sungguh melaksanakan tugas dan kewajibannya, sehingga bangunan keluarga muslim yang dapat memberi tauladan benar-benar terwujud.

Hak seorang istri adalah kewajiban sang suami demikian pula sebaliknya, kewajiban istri merupakan hak suami. Keseimbangan dalam memenuhi hak dan kewajiban diantara keduanya akan menjaga kelangsungan dan keharmonisan keluarga.

Beberapa kiat menjaga keselamatan diri dan keluarga antara lain :
  1. Mengajarkan akidah yang benar. Akidah merupakan hal terpenting yang harus senantiasa diperhatikan oleh orangtua. Karena jika akidah seseorang baik dan kuat maka segi-segi yang lainpun akan menjadi baik.

  2. Tauladan dalam ibadah dan akhlak. Keteladanan merupakan faktor penting dalam sebuah pendidikan. Baik atau buruknya akhlak seorang anak sangat tergantung dari keletadanan yang diberikan oleh orangtua.
    Menurut Abdullah Nashih Ulwan, hal ini karena orang tua adalah contoh terbaik dan terdekat dalam pandangan anak, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya dan tata santunnya, baik disadari ataupun tidak. Bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran orangtua tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan, baik material atau spiritual, diketahui atau tidak diketahui. Betapapun suci dan bersihnya fitrah manusia, betapapun baiknya suatu sistem pendidikan tidak akan mampu mencetak/ membentuk generasi yang baik, tanpa adanya keteladanan dari sang pendidik (orangtua).
    Anak akan tumbuh dalam kebaikan, memiliki kemuliaan akhlak, jika kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik. Demikian pula sebaliknya, ia akan tumbuh dalam kesesatan, berjalan dalam kekufuran dan kemaksiatan, jika ia melihat kedua orang tuanya memeberikan teladan yang buruk. Tidak mungkin sang anak belajar amanah, kemuliaan, sopan santun, kasih sayang dan sebagainya, jika kedua orang tua memiliki sifat yang berlawanan seperti dusta, kasar, suka mencela, pun sebaliknya.
    Pendidikan keteladanan terbaik bagi anak, ialah jika kedua orang tua mampu menghubungkan anaknya dengan keteladanan Rasulullah n, uswah seluruh ummat manusia.

  3. Menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan. Bertakwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketakwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah.
    Dapat dikatakan, takwa merupakan kualitas kedirian manusia yang mampu mengendalikan manusia dari kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan dengan nilai-nilai kebaikan. Dengan ketakwaan itu, manusia selalu berupaya berjalan di atas jalan yang dikehendaki Allah, tunduk secara total kepada perintah-Nya yang diekspresikan dalam bentuk menyebarkan kesejahteraan dan kedamaian bagi sesama dan lingkungannya.
Akhirnya, semoga kita dapat memperbaiki penjagaan diri dan keluarga dari hari ke hari dengan lebih baik lagi, sehingga Allah berkenan mengumpulkan kita di dalam jannah-Nya merengkuh kebahagiaan hakiki, Amiin. Wallahu A`lam.

0 komentar